Langsung ke konten utama

CERITA RAMADHAN RAHMAH

Menyaksikan penganut agama Islam dalam menyambut bulan spesial, bulan pilihan, bulan terbaik dan bulan penuh berkah begitu menyenangkan. Aku termasuk orang yang menyambut ramadhan dengan suka cita. Tapi seiring waktu ada  sedikit pertanyaan dalam pikiran kenapa penganut agama Islam begitu istimewa merayakan puasa? Bahkan kompak dirayakan diseluruh penjuru belahan dunia. Apakah di agama lain tidak pernah ada puasa ya? Kalau ada lalu bagaimana cara mereka menyambut puasanya. Mereka benar-benar membuatku iri bisa beribadah dengan keheningan dan diam-diam, terlebih sekarang hidup tanpa flexing adalah kehampaan kata temanku anak jaksel.  

Berjejer deretan menu bulan Ramadhan diposting oleh akun media sosial, website ataupun group-group WAG. Iklan minuman segar dan makanan sajian menu buka puasa pun seolah tak mau kalah. Teringat masa kecil aku adalah pengumpul makanan dari mulai selepas sahur hingga buka puasa. Belum lagi ceramah agama yang kudengar bahwa tidurnya orang puasa adalah pahala, Aku lalu lomba rajin tidur dengan kakakku. Ada yang bilang bau nafas kita adalah harumnya surga, lucunya bau-bauan nafas dengan teman-temanku. Terkekeh aku mengingat masa kecilku yang konyol. 

Belum lagi giat membaca qur'an target mengkatamkan membaca ayat suciku lakukan. Teringat dulu masa remaja aku sempat berlomba mengkatamkan Qur'an dengan pacar. Menurutku cara pacaran yang agamis untuk mengisi Ramadhan saat itu. Teringat kata ustadzku kalau berpuasa harus menahan kemarahan. Bulan ramadhan takjilku sering dicuri teman. Akupun diam saja karena kata teman kalau marah puasa tak akan berpahala. Sia-sia dong aku udah nahan haus lapar seharian kata hatiku saat itu. 

Lalu apakah Ramadhan ini, apakah aku harus melewatkan ramadhan yang sama dengan masa kecilku? Puasa hanya sebatas merencakan menu sahur dan berbuka? Puasa hanya menghabisi waktu dengan tidur? atau aku hanya diam ketika masih ada kejahatan-kejahatan kemanusian? atau bahkan menghabisi waktu mengunjing minoritas yang berbeda dgku dengan dalih mereka ahli neraka sdgkan aku berusaha mengklaim diri sebagai ahli surga. Atau aku sibuk bertanya kamu puasa atau tidak? Atau menghabisi membaca kitap suci tanpa menjalankan pesan-pesannya? 

Entahlah! Ramadhan ini tentunya aku ingin lebih baik agar bisa menjadi manusia taqwa yang bukan sebatas menjalankan kwajiban dan menjauhi larangan. 

Pikiran kreatifku soal Ramadhan ini sedang gemuruh pekik Rahmah pada dinding.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...