Langsung ke konten utama

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

 Oleh : Dwi Puji Lestari 



Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah?
Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebagai teman atau kekasih, namun seiring berjalan waktu bullying yakni abad ke 17 bullying diartikan sebagai pengawal yang identik dengan pribadi yang mengertak atau menakuti yang lemah sehingga bullying  identik dengan gertakan, Ada juga yang mengatakan bahwa Bully dimaknai dengan "banteng" sebab bully diilustrasikan dengan banteng yang mengamuk (Cahyani, 2017). Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah kata Bully sudah populer? Sejak tujuh tahun belakang KPI tahun 2015 meluncurkan data bahwa hampir semua pelajar mengalami bullying di sekolah, jadi apa sebetulnya Bullying ini?
Bullying di Indonesia identik dengan bahasa "bahan lelucon", yang sebetulnya makna ini  jauh dari konteknya.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia bullying dimaknai sebagai "perundungan", yang akhir-akhir ini sering kita temukan dalam surat kabar, dari sini dapat kita ketahui bullying bukan barang baru, mungkin setelah kita mengetahui makna lebih jauh kita menjadi sadar bahwa kita sering menjadi pelaku ataupun korban bullying di lingkungan sekolah ataupun di lingkungan kerja kita.
Jika kita merujuk pada Bean et al  bullying  dapat diartikan sebagai tindakan intimidasi yang dilakukan secara berulang-ulang dari orang kepada orang lain. Aktivitas bullying secara umum dalam bentuk adalah fisik, verbal ataupun secara tidak langsung yang menimbukan ketidak nyamanan bagi orang lain (Beane et al., 2008). Lebih jelasnya bentuk bullying menurut Colvin et al diantaranya menghina, mengoda, mengancam, mempermalukan dan  melecehkan (Colvin et al., 1998). Menurut Olweus 1995 menyebutkan bahwa sebab bullying terjadi karena tindakan yang disengaja yang mengakibatkan rasa sakit oleh korban.
Bullying merupakan patologi (penyakit) sosial yang harus dihentikan karena ada tiga elemen yang akan terkena dampak yang akan ditimbukan diantaranya (Cahyani, 2017) : 
pertama, korban akan depresi, cemas, mengalami gangguan tidur, potensial menjadi pelaku korban, dan bunuh diri.
kedua, potensi menjadi pelaku kekerasan, potensi menjadi pecandu rokok dan Narkotika, dan potensi menjadi pelaku seks bebas. 
ketiga, Saksi mata, potensi kecanduan rokok dan Narkotika, Depresi, Bolos sekolah, melanggar aturan, dan gagal di akademik. 

"ada banyak kasus, saat anak terdeteksi sebagai korban bully guru dan sekolah tidak tahu harus bagaimana. Pelaku tidak mendapatkan konsekuensi dan lingkungan tidak memberikan dukungan pada korban, ia dibiarkan saja menghadapinya sendiri. Akibatnya alih-alih bully dihentikan, korban mendapat lebih banyak bully"  (Cahyani, 2017)
Kutipan tersebut mengambarkan bahwa selama ini para steakholder sekolah kebingungan mengalami kasus bully  jika terjadi hanya sekedar menjadi berita kemudian dilepaskan untuk tidak disikapi lebih lanjut, maka dalam buku yang ditulis oleh Riana Cahyani yang merupakan konsultan sekolah bebas bullying di Yogyakarta ini memberikan panduan kepada para pembaca untuk mencegah dan menangani bullying yang sering terjadi di sekolah. 
Buku ini sangat layak dibaca oleh para guru sebab di dalamnya terdapat langkah-langkah untuk menjalankan program dari perencanaan, proses, hingga evaluasi anti program baik didalam pembelajaran maupun diluar pembelajaran.Selain guru buku ini juga sangat layak dibaca oleh orang tua sebagai mitra sekolah untuk mensukseskan pencegahan dan penanganan bullying di sekolah. 
Buku ini benar menyadarkan kita untuk mengenali apa sesungguhnya bullying, apa yang harus dilakukan menyikapi bullying di sekolah, tidak hanya itu kita diajak untuk menjadi pendekar anti bullying di lingkungan utamanya di sekolah. 

Judul           : Bullying di Sekolah : Pencegahan dan Penanganan
Penulis        : Riana Cahyani, S.PSi.
Penerbit       : Cahaya Pustaka
Cetakan       : Pertama, Januari 2017
Tebal           : 103 halaman
ISBN           :  978-602-73640-5-9 
 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...