Langsung ke konten utama

Sejenak, Gantikan Posisiku!


belum kering airmataku atas tragedi april 2018 menyaksikan akad orang yang aku cintai menikah dengan perempuan lain via siaran langsung difacebook milik salah satu anak daerah, yang pasti anak itu masih sefamily entah dengan pihak laki-laki ataupun perempuan, teringat abang kala itu mengenakan kopiah hitam, mengenakan jas warna hitam, berbalu sorban yang diselempangkan dipundaknya, iya...menunduk kala itu dia ku perhatikan, akad itu berlangsung sangat sederhana, berlangsung diruangan berukuran sekitar 6x10 meter. Bapak-bapak duduk berjejer menyamping dan menghadap penghulu yang bersorban. ku lihat ada dupa berapi kecil yang sedang dibacakan doa oleh penghulu, entah apa yang dibaca, ku lihat buku bertuliskan huruf arab yang dibaca serta ada jejeran amlop didepan para bapak-bapak yang menyaksikan akad itu berlangsung, dan terakhir ada bantal dihadapan semua orang diruangan itu, pasca penghulu memimpin berbagai ritual itu saat itu suamiku dipanggil oleh penghulu, entah ritual apalagi dia dibisikan dan mengangguk kemudian mereka beradu bahu kaki berbatas bantal, angin begitu kencang ku lihat mengiri saat ritual itu terjadi hingga mampu menerbangkan plastik. tak lama riuh ucapan,"PUTUS DUDA"
mendengar ucapan terakhir itu aku bak disambar petir, menengok keadaan kami yang belum bercerai legal hukum, memang secara syariat aku menyadari kala itu dia bilang diujung TELP, Sudah aku ceraikan kamu! aku lalu menutup telpnya, kemudian dia menyusul SMS: Pintar ya kamu, Gila!
aku tak membalasnya, membiarkan begitu saja!
aku bergetar melihat semua acara itu berlangsung, disamping lelehan airmata yang sudah tidak ku tahan dan tangan yang bergetar serta hati yang begitu meyayat sengaja aku menyaksikan livenya di kamar mandi karena aku tidak ingin melihat anak-anak yang sedang bermain gembira melihatku menangis.
aku mengenal sosok penghulu itu dari saudara mantan suamiku, dia adalah ayah dari keponakan yang dulu sangat dekat dengan kami, ponakan itu sudah hampir aku anggap seperti anak pertama kami karena kedekatan kami yang tidak berbatas lagi, hampir setiap hari dia datang kerumah, akupun sudah membebaskannya memasuki ruang tamu dan dapur, tak canggung sesekali aku memesannya kalau makan cuci piring sendiri ya, "wate pekerjaan banyak." kala itu aku begitu capek sekali mengasuh anak pertamaku dan sedang hamil tua tapi semua pekerjaan ku lakukan tanpa bantuan dari pekerjaan dapur, kamar dan ruang depan. dari mulai menjelang subuh hingga aku harus tidur paling terakhir,
apa yang aku rasakan, aku begitu pedih dan sakit serta menyayangkan. kenapa....suamiku harus dinikahkan oleh ayah dri keponakan terdekatku, apa ponakanku tidak cerita kalau suamiku di kota memiliki istri dan dua anak yang masih hitungan bulan, namun aku tak ingin berburuk sangka terlalu banyak, biarlah..... ku hapus luka dikit demi sedikit.
---------------
aku, menguatkan dengan mengucapkan selamat untuk suamiku,
"selamat ya kak atas pernikahannya hr ini, tadi ade mendapatkan kabar dari saudara kakak, salam untuk Istri. Ade walpun sudah tdk akan slg benci, kita sdah dwasa untuk mengikhlaskan jalan masing-masing."
aku sengaja menaruh bahasa sbg mantan Istri, karena memang aku harus mulai melebel gelar itu kepadaku, bahwa pernikahan ini adalah keseriusannya meninggalkanku dan anak-anak.
tak sampai disitu, karena tak mendapat respon darinya aku biacara kepada istrinya dengan mengucapkan selamat dan akan menjaga silaturahim, sesekali sleeping answer sehga tak membuatku menarik untuk melanjutkan chating dengan istri suamiku.
hingga seminggu aku selalu melihat pemberitahuan di story Facebooknya, euforia pengantin baru ditampakkan oleh istri suamiku, dari yang makan bersama, mencuci baju bersama, dan sblm menikah banyak foto ttg perjalann kepantai bersama bermesra, smbtara aku kala dirumah mengasuh anak-anakku, bersabar atas sikap2 merka yg masi bayi dan balita, blm lagi status-status mesra. Tak kuat aku membayangkannya dan merasakan smua itu. hingga memutar memoriku bersama suamiku. aku tak kuat karena menganggu emosiku, akhirnya aku memutuskan menutup akun facebook suamiku yang lalu dan berhenti untuk melihat mereka, memulai kehidupan baru dan menghormati mereka tanpa harus ku ganggu dengan chat-chat berkabar, karena bagiku itu sudah tidak perlu dan relevan lagi, disamping menjaga kesehatan emosiku juga menghargai keputusan suamiku....
------------------------------------
baru, baru ini, istri suamiku terlihat kurang bersabar melihatku mengabaikan pesannya, dia mengatakan: "katanya mba ingin tetepa menyambung silaturahim"
sehingga dia menulis hastag padaku
dia tidak tahu, dibalik aku yang mengabaikan pesannya tersirat makna," aku ini bukan siapa-siapa lagi untuk suamiku, secara substansi aku sudah bercerai, tak ada yang harus ditakutkan kepadaku."
kabarku dan anak-anakku tak perlu engkau ketahui, karena engkau bukan siapa-siapa untuk kami, jika hendak bertanya itu harusnya ayahnya yang lebih berhak menanyakan padaku, tapi tak pernah aku mendapati pertanyaan itu padaku.
aku, tak ingin memperpanjang konflik, itulah mengapa aku diam. kamu tidak pernah merasa aku jatuh bangun membangun kekuatan, bagaimana aku harus melepas mimpi-mimpi bahagiaku bersama suamiku, yang berpamit mengejar cita-cita tiba-tiba engkau hadir diantara kami, membuat pernkahanku usia balita ini hancur lebur, kamu tidak merasakan betapa aku kehilangan sosok yang selalu menjadi semangatku, sosok idola dalam mendampingku, sosok yang mengerti aku setiap waktu, aku harus kehilangan orang yang selalu memperhatikan ku dr ujung kuku hingga rambut, tak ada tikai tak ada kemarhan diantara kami, keharmonisan itu hilang mendadak, sementara kini dengan katamu yang bersembilu dan tindakanmu begitu menyakitiku, jika kamu mendengar kabar suamiku akan pergi menemuiku saja kamu cemburu, bagaimana jika kamu diposisiku hari ini? ditinggalkan sendiri, bersama anak-anak, mengasuh dan menafkai anak-anak serta hidupku sendiri.
Bila aku mau, aku bisa meminta hak nafkah anak anakku, bila ku mau ku mengiba kasih syag anak anak kpda suami, tp aku tak mau melalukannya, karena aku tak ingin menggu rumah tangga yang kalian bangun, sudah menjadi tekatku, kedua anakku hrus besar dr tangan Ibunya smpai nafas ibunya ini tak ada lagi.
jangan pernah menuntut kepadaku lebih banyak lagi, aku sudah membebaskanmu mengantikan posisiku hari ini.
(NOVEL, Realis. 2018)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...