2017 saya mengalami pukulan luar biasa karena saya ditinggalkan oleh pasangan yang saya percaya. Sejak mengenalnya kepercayaan saya berikan dengan totalitas dan sayapun belajar menjadi seorang pasangan yang loyal dari sisi apapun. Memang takdir alam tidak merestui kami untuk bersatu akhirnya pernikahan yang berusia tiga tahun itu harus selesai diawal perjalanan pernikahan kami. Anak pertama berusia satu tahu enam bulan (1,6 tahun) dan anak kedua berusia tiga belas hari (13 hari) saya bawa ke kampung halaman dengan niat awal mengungsi dulu selama ayahnya bersilaturahim ke kampung halamannya. Namun memang takdir ingin berhenti ayahnya lupa diri dia membawa perempuan dalam ketentraman, ketenangan dan kedamaian pernikahan kami. Saya mendefinisikan sebagai istri idealis tidak menerima itu kemudian dengan keputusan sadar kami memutuskan untuk bercerai saya memilih melanjutkan kehidupan bersama anak-anak dan dia memilih memulai kehidupan barunya dengan perempuan sesuku pilihannya. Memang ujian sebagai orang dewasa itu mempertahankan nurani, mencintai kemerdekaan pikir, hati dan tindakan.
Saat itu saya membina baik berhubungan dengan seorang teman yang menyebut dirinya sebagai orang tua bagi saya. Diantara itu saya menempati kamar 3x2 di rumahnya. Tepat didepan rumah. Ruangan itu bekas daripada kelas anak usia TK yang bsa digunakan belajar 4-5 anak. Tidak layak disebut kamar karena didalamnya ada sofa. Jika saya akan tidur saya bisa tidur diatas sofa panas itu. Namun pikiran saya lantas tidak terpenjara saya terus mengembangkan diri. Banyak saya sumbankan pikiran saya untuk sekolahnya, belum lagi masalah pribadi si kawan ini. Saya pernah berhutang padanya untuk biaya pendidikan doktornya saya sekitar 50 % namun saya melunasinya dengan penuh, tak ada hutang budi saya padanya. Dia tahu saya adalah orang yang banyak berinteraksi dengan orang-orang besar. saya pernah diminta menawarkan ruko di pasar milik pembantunya, sayapun dengan berat hati menawarkan dengan atasan saya yang saya anggap sebagai guru dan orang tua saya. Aku bersyukur sebab beliau tidak jadi membelinya. teman saya ini ingin menjadi makelar sebab minimnya ilmu saya tentang relasi pergaulan saya tidak lantas memahaminya. Suatu si kawan bercerita tentang ambruknya ekonomi lantas jiwa kebaikan saya terpanggil akan ceritanya yang memang sebetulnya digunakan untuk menjebak saya memberikan uang lalu saya pinjami uang sebanyak 2000.000 sebagai modalnya memiliki usaha frozen waktu pengembaliannya diluar dari janji namun saya bersabar dan maklum selanjutnya saat dikembalikan hanya dikembalikan satu juta sisanya ditahan tentang bisnis yang akan kami bangun berdua dan disamping itu dia mau saya merahasiakan kalau dia meminjam uang kepada saya. Saya memaklumi dia berani memotong itu, tidak apa-apa namanya untuk kebaikan gumam saya. Dalam menjalankan lembaga pendidikan yang kami bangun beliau mengatakan saya dan teman adalah tenaga ahli dan lapangan tidak bertugas untuk menanggung materi namun ditengah perjalanan beliau meminta saya untuk mentransfer 1000.0000/bulan untuk operasional lembaga yang kami bangun. Saat rejeki masih longgar saya turut untuk memberikan apa yang dia mau. Suatu saya mengungkapkan saya tidak bisa lagi karena ini sangat menganggu nurani saya bekerjasama tidak ada kesepakatan, tidak konsiten. Pendek kata karena dia juga finansial tidak kuat lembaga yang kami perjuangkan itu dibubarkan.
Perijinan diawal saya harus mengurus ijin domisili yayasan karena yayasan tidak sesuai dengan alamat, kedua tanda daftar yayasan karena ketua yayasan sudah berubah dan alamat tidak sesuai dan ijin sejak 2006 sudah mati begitupun ijin kegiatan yayasan. Semua berlalu dengan tidak mudah banyak yang kita tahlukan. untuk hal keduanya kami baru mengurus perijinan lembaga itu kami melalui link Jakevo banyak perbaikan yang kami lalui namun kami begitu sabar akhirnya di PTSP disetujui di tahap kedua kita berurusan dengan dinas pendidikan mereka survey lalu menyetujui namun mereka minta agar akta dibunyikan pendidikan non formal pkbm namun si kawan karena kendala biaya tidak mau memperjuangkan malah minta pindah notaris karena notaris dari awal berdiri terlalu materialis dan dia berupaya mengelak kalau dia bersalah dengan melobi menelpun saya untuk meluruskan namun notaris itu berkata kepada saya bahwa si kawan ini plin-plan dan tidak professional. Akhirnya lembaga dicancel tidak didirikan. Kecewa adalah hal manusiawi. Disamping itu si kawan ini mengontak jaringan untuk menitipkan anaknya kuliah di universitas islam negeri melalui jaringanku tanpa sepengatahuanku artinya dia jalur belakang saya. namun Tuhan maha baik memberitahukan ke saya untuk persoalan ini.
setelah tujuh tahun saya baru memahami sifat munafiknya yang selalu menutupi bahwa dia pelaku poligami dan memiliki anak atheis yang kabur keluar negeri karena kondisi keluarga yang tidak bisa dikendalikan yang selalu menyalahkan suaminya padahal suaminya memiliki istri pertama dan rumah tangganya harmonis. Begitulah hikmah yang bisa dipetik hidup harus jujur pada diri dan orang lain, mau mengalah, tidak mencurangi orang dan tidak berbuat dibelakang artinya menghargai orang lain.
Duapelajaran penting untuk diri ini kepercayaan itu mahal tidak bisa diserahkan begitu saja, ini adalah pelajaran besar untuk kehidupan dimanapun kepentingan akan terselip.
Komentar
Posting Komentar