Jogja kala itu rasanya biasa saja, tak ada yang istimewa. Saat itu aku menjadi saksi kisah cinta kasihmu pada seorang perempuan. Aku membaca kasih sayang yang tak ingin terpublikasikan, aku membaca kedekatan tanpa ikatan dan bahkan aku tidak mengerti mengapa kisahnya rumit dan aneh. Namun aku tak mempersoalkan itu, aku tetap menjadi teman baikmu, bahkan satu masa kamu mendatangi rumahku bersama perempuan yang kau sebut itu kekasihmu, dengan kesan kamu yang selalu interest mendengar ceritaku, bicara yang nyambung sana sini begitu saja tak ada yang lebih.
Kala aku berumah tangga saat itu aku melahirkan anak pertama, kamu masih sempat mengucapkan selamat, nanti saya ketemu para ponakan saya itu ya, ngobrol kesana kemari kala itu mengunakan nomer simpati di teras dekat kami menjemur baju-baju. Masyallah.... kesanku kamu adalah orang yang sangat baik, tak ingat persis apa yang kami bicarakan saat itu, namun menarik.
Saat di yogyakarta, aku tak banyak berbicara, aku tak banyak bersinggungan denganmu, aku hanya mendengar kalau kamu anak pengusaha maka tak heranlah diantara teman-teman yang lain terlihat kamu yang menjadi bos kala itu, memang aku melihatmu orang yang pilih-pilih dan sombong. Aku hampir 4 tahun di yogyakarta, bertemu kamu tapi kita tanpa kisah kasih yang mengesan. Begitulah jogja terlewat untuk kita lalui.
Malam ini kamu mengabarkan, di ujung barat Indonesia sedang mati lampu dan hujan artinya kita tak bisa mengabarkan lewat telepon, padahal malam adalah yang kita tunggu untuk berbagi cerita perjuangan dipagi hingga malam hari, namun aku tak banyak gelisah kamu pernah bilang : membuktikan kasih sayang tidak lewat kata-kata, masih panjang dan banyak waktu untuk membuktikanya kita hanya perlu sabar untuk menunggu itu semua.
aku yang tetap mengagumimu, pak dokter, pak mentor dan pak teladan! he
kenapa kamu memanggilku bapak? tanya mu kemarin malam.
Dengan penuh perasaan aku menjawab, memang selepas menikah tidak mau jadi calon ayah? tanyaku sedikit syahdu.
Tidak, dari sekarang aku sudah bergelar bapak, sejak aku memilihmu. Jadi kenapa harus nanti! Jawabmu tanpa basa basi.
Tertegun, haru dan menangis mendengar ucapan tulusmu.... Semoga Tuhan Meridhoi semua ini doaku selepas menutup cerita ini...
Komentar
Posting Komentar