Langsung ke konten utama

Jogja Yang Terlewat (1)

Jogja kala itu rasanya biasa saja, tak ada yang istimewa. Saat itu aku menjadi saksi kisah cinta kasihmu pada seorang perempuan. Aku membaca kasih sayang yang tak ingin terpublikasikan, aku membaca kedekatan tanpa ikatan dan bahkan aku tidak mengerti mengapa kisahnya rumit dan aneh. Namun aku tak mempersoalkan itu, aku tetap menjadi teman baikmu, bahkan satu masa kamu mendatangi rumahku bersama perempuan yang kau sebut itu kekasihmu, dengan kesan kamu yang selalu interest mendengar ceritaku, bicara yang nyambung sana sini begitu saja tak ada yang lebih. 

Kala aku berumah tangga saat itu aku melahirkan anak pertama, kamu masih sempat mengucapkan selamat, nanti saya ketemu para ponakan saya itu ya, ngobrol kesana kemari kala itu mengunakan nomer simpati di teras dekat kami menjemur baju-baju. Masyallah.... kesanku kamu adalah orang yang sangat baik, tak ingat persis apa yang kami bicarakan saat itu, namun menarik. 

Saat di yogyakarta, aku tak banyak berbicara, aku tak banyak bersinggungan denganmu, aku hanya mendengar kalau kamu anak pengusaha maka tak heranlah diantara teman-teman yang lain terlihat kamu yang menjadi bos kala itu, memang aku melihatmu orang yang pilih-pilih dan sombong. Aku hampir 4 tahun di yogyakarta, bertemu kamu tapi kita tanpa kisah kasih yang mengesan. Begitulah jogja terlewat untuk kita lalui. 

Malam ini kamu mengabarkan, di ujung barat Indonesia sedang mati lampu dan hujan artinya kita tak bisa mengabarkan lewat telepon, padahal malam adalah yang kita tunggu untuk berbagi cerita perjuangan dipagi hingga malam hari, namun aku tak banyak gelisah kamu pernah bilang : membuktikan kasih sayang tidak lewat kata-kata, masih panjang dan banyak waktu untuk membuktikanya kita hanya perlu sabar untuk menunggu itu semua. 

aku yang tetap mengagumimu, pak dokter, pak mentor dan pak teladan! he 

kenapa kamu memanggilku bapak? tanya mu kemarin malam. 

Dengan penuh perasaan aku menjawab, memang selepas menikah tidak mau jadi calon ayah? tanyaku sedikit syahdu. 

Tidak, dari sekarang aku sudah bergelar bapak, sejak aku memilihmu. Jadi kenapa harus nanti! Jawabmu tanpa basa basi.

Tertegun, haru dan menangis mendengar ucapan tulusmu.... Semoga Tuhan Meridhoi semua ini doaku selepas menutup cerita ini...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...