Langsung ke konten utama

Jakarta (1)

Diantara antrian Disertasi yang musti disegerakan, akhiran ini ingin bisa sekedar berbagi teh di sore hari sambil melihat senja di sore hari, tentunya dengan orang yang kita harapkan. Pikirannya begitu tajam tiap aku menyebutnya soal Jakarta dia selalu sabar mendengarkan keluhanku berkali-kali. 
Pagi  ini aku mengirimkan massage :" Pagi yang paling aku tidak suka adalah malamnya mimpi abang, kayak udah dikuasai banget ya alam bawah sadarku, sebelumnya aku ndak kaya gini," aku yang sempat memiliki pasangan sebelumnya susah sekali terbawa mimpi. Setelahnya aku memiliki teman dekat tak ada habisnya dia membuatku jatuh cinta. Namun dengan abang, tak lama sebelum kami memutuskan untuk komitmen saling mengenal menuju harapan yang lebih baik pernah sekali pasca munajat malam memimpikannya. 
Abang tidak menangapinya dengan serius, siang pukul 14.05 Dia mengirimkan foto dalam kegiatan para pemuda. Maklum Tokoh Pemuda pas liatnya langsung doa semoga kehadiranku membawamu jadi Emil Dardak masadepan (gumamku) dengan wajah yang bijaksananya dan meneduhkan. Aku yang sedang mengikuti Webinarpun tertawa senang melihatnya sambil ku goda, " Ih cakep..hahah kaya Ariel ya rambutnya👀, Ariellah yang mirip saya 😋, jawabanya memang selalu jahil. 
Abang bukan tipe texting, abang bukan tipe laki-laki yang banyak memproduksi kata-kata, abang juga bukan laki-laki yang obral obral manis-manisan. sejauh 3 bulan kebelakang, Panggilan romantisnya Nona dan Nyonya, itu dah romantis menurutku. Malam ini kami bicara serius terkait dengan rencana kepindahan abang, sebetulnya ini pembicaraan yang berulang karena ada rencanaku yang terpaksa ku pause dahulu karena harus memprioritaskan pendidikanku. Malam ini ada bait-bait yang membuatku tak bisa lagi berkata syukur pada Allah. 
'Aku itu harus realistis, pijakan disana yang ku perlukan setelahnya silahkan kamu lepas saya dan biar 'kan saya membuktikan diri saya kepadamu,"
Bagaiamana dengan mama disana atau keluarga dan kegiatan-kegiatan disana? aku mulai mengembangkan pertanyaaan. 
itu bukan urusan kamu, kamu pikirkan saja yang urusan kamu jawabnya bijaksana. 
Oh Tuhan, gimana aku ndak bersyukur memiliki orang pekerja keras seperti dia, baik dan bisa menjaga pandangannya dari perempuan. Selama 31 Tahun hidup hanya satu perempuan saja yang menjadi pernah menjadi kekasihnya. Semoga jarak ini segara berakhir dan kita bisa belajar berjuang bersama-sama di Ibu Kota yang kita damba ini, doaku diakhir malam. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...