Langsung ke konten utama

SISI LAIN 'TILIK', RESPRESENTASI KEBIASAAN ANTI KEMANUSIAAN

Ada yang membangun citra positif perempuan, namun ada yang membangun citra negatif perempuan. Pada kontek lembar tulisan ini saya ingin berbicara sebagai perempuan terkait dengan film pendek yang akhir-akhir viral dengan judul 'Tilik' (https://www.youtube.com/watch?v=GAyvgz8_zV8). Film berdurasi kurang lebih tiga puluh menit ini mengambarkan guyup kerukunan desa khas daerah Yogyakarta karena kebetulan setting tempatnya berada di daerah yogyakarta. Kegiatan toleransi, refleksi kasih sayang kepada sesama itu ditunjukan dalam merespon Bu Lurah yang sedang sakit, kemudian warganya yang diinisasi oleh Yu Ning dalam menjenguk Ibu Lurah. Rombongan ibu-ibu tersebut rela menjenguk Ibu Lurah dengan mengunakan Truk. Sebuah fenomena yang masih sering terjadi di pedesaan, guyup rukun menjenguk orang sakit, jagong manten maupun melawat. Tujuan daripada kegiatan itu luar biasa baik. Salah satu sudut pandang daripada tujuan dari film ini menurut berbagai media yang sudah penulis baca diantaranya memposisikan gosip dari berbagai tujuan misalnya sebagai kontrol sosial, sebagai hiburan, sebagai jalan diterima sebuah komunitas dan sebagai cara mengatasi kebosanan, kesepian daripada orang yang melakukan gosip.  . (https://www.kompas.com/sains/read/2020/08/21/173200823/gibah-bu-tejo-di-film-tilik-kenapa-sih-kita-suka-bergosip-?page=all). Sisi lain menurut Agug dalam kanal youtube ravacana film tujuan dari pada film ini untuk mendeskripsikan masyarakat Indonesia yang mendewakan internet sebagai sumber akurat dalam mendapatkan informasi, disampaikan juga oleh Bu Tejo dalam peran, HP tidak hanyabuat gaya tapi buat cari informasi. film ini sebetulna edukatif ingin mengedukasi masyarakat cara berinternet dengan baik agar tidak menelan informasi dengan mentah-mentah, membudayakan budaya tabayun, dan tidak percaya begitu saja (https://www.kompas.com/hype/read/2020/08/21/134745466/fakta-menarik-di-balik-film-pendek-tilik? page=all)

Namun daripada tujuan film yang positif itu disini juga menguak budaya perempuan yang bercitra pengosip, argumentatif, saling membicarakan orang lain ketika berada dibelakang, mau menang sendiri, suka belaja, berkerumun, keroyokan, dan suka nepotisme istilah kerennya dalam film itu maka disebut Woman on the top. Saya menyebut film ini sebagai bahan refleksi sikap tradisi anti kemanusian gerombolan perempuan, mengapa? ini saya akan mengungkapkan sudut pandang saya terkait dengan budaya gosip. Dian adalah anak muda kembang desa yang lahir dari ekonomi bawah, perubahan tiba-tiba dari ekonomi menjadikan Dian menjadi bahan gosip oleh Ibu-Ibu desa, Ibu-ibu membicarakan Dian dapat uang karena jalan dengan om-om di mall dan bekerja melayani laki-laki, padahal deskripsi Dian ada difacebook yang belum tentu kebenarannya. 
Dalam sudut pandang saya sebagai perempuan gerombolan ibu-ibu pengosip ini mereka tidak memanusiakan Dian karena menutup citra Dian untuk memiliki jalan positif dalam meraih hartanya. Dian adalah manusia yang berhak dimanusiakan dengan dicitrakan positif. Dari kejadian dalam film pendek itu kita dapat menganalisa kedepan bahwa pertama, lebiasaan mengosip ini akan merusak sesama manusia, karena tidak semua pendengar gosip akan cerdas mengklarifikasi, gosip yang diterima oleh banyak orang akan digunakan sebagai standart penilaian, ini akan mematikan orang yang digosipkan. Kedua, akan timbul perpecahan antara pengosip dan yang digosipkan karena pengosip hanya akan berpindah ruang dari ruang satu ke ruang lain dengan kata kunci "jangan bilang ya", namun pengosip ini tidak tahu bahwa pendengar yang mereka ajak bergosip ini tidak bisa menyimpan rahasia yang dia sampaikan (ini sudah menjadi rahasia umum), ketiga kepribadian pengosip/pelaku gosip adalah lemah artinya lemah berpikir karena kalau pengosip tahu akibat daripada bergosip itu lebih banyak maka akan menghindari gosip, keempat kegiatan bergosip adalah kegiatan tidak ada faedahnya bagi perempuan karena  membuang waktu dan tenaga, padahal jika waktu bergosip digunakan untuk kegiatan positif akan jauh bermanfaat. Kelima, gosip akan menutup kebaikan yang akan datang kepada pengosip. Keenam fenomena gosip akan melukai orang-orang yang berada disekitaran orang yang digosipkan. Misalnya anak yang digosipkan yang akan merasakan sakit adalah keluarganya dari anak tersebut. 

 

Lalu bagaimana kita mau mencitrakan diri kita sebagai perempuan dimata publik? apakah kita mau tetap menjadi bagian daripada perempuan pengosip yang notabene secara tidak langsung tidak memanusiakan sesama perempuan. Membicarakan orang lain, mengulik kehidupan orang lain yang tidak ada kepentingannya dengan kita dan bukan sarana untuk memperbaiki orang tersebut bagian daripada kerugian untuk diri kita. Orang lain mau punya keburukan bukan wilayah kita untuk ikut mengolok-olok, mencerca, mencela dan menganggap orang lain buruk dari kita. Kita tidak pernah tahu diakhir kehidupan nanti siapa yang akan khusnul khotimah, proses manusia menjadi baik itu berbagai macam jalannya kita tidak berhak mencampuri atau menilai kehidupan orang lain karena setiap manusia memiliki jalan menuju keyakinan menghamba kepada Tuhan yang maha Kuasa. Maka redefinisi 'Woman on the top' adalah perempuan produktif yang mendatangkan kebaikan setiap orang ditemuinya, bukan yang memenangkan segala kepentingannya dengan cara-cara yang merugikan orang lain dan melanggar aturan. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...