Langsung ke konten utama

NASKAH TUHAN (2)

Namaku, Rayya. Berawal dari lingkunganku yang mendukungku untuk dekat dengan para ustadz maka kala itu aku berkenalan dengan ustadz yang mukim ramadhan di desaku. Nama ustadz itu Eri. Perawakan tinggi, berkulit putih dan berambut lurus menambah semangat mengaji para santri termasuk aku. Saat itu aku berusia 15 tahun, tepatnya kelas 2 SMP. Tidak seperti dengan sebelumnya ustadz ini begitu sulit untuk diajak berkenalan dekat. Kami hanya bisa menemuinya saat ngaji saja karena dia jarang untuk tarawih dan sholad subuh di masjid kami, Dia ditugaskan untuk memimpin jamaah di RT 06, yang letaknya dekat dengan persawahan. 

Entah kenapa saat bertemu dia rasa yang timbul dari hati begitu mengesan, maklum saja aku masih usia SMP, sebut saja mengenal cinta monyet. Tidak hanya aku yang ngefans dengan ustadz itu, teman-teman remajaku selalu menjadikannya tranding topik. Satu bulan Ustadz itu bermukim lalu dia kembali ke pondoknya. Perpisahannya di mimbar Idul Fitri, selepas Idul Fitri ala anak santri kita mengucapkan perpisahan kepadanya. 

Beberapa tahun kemudian, aku memiliki HP pertama kali bermerk samsung J, HP kecil dengan bunyi poliponik, disitulah aku mulai mencari nomer HP orang-orang yang terhubung denganku, singkat cerita aku menemukan no,HP ustadz Eri. Kita kemudian terhubung, hampir setiap hari kami terhubung dalam komunikasi. Begitulah singkat kami berkenalan dengan ustadz semakin menyenangkan. Tak ada yang mengungkapkan cinta namun kami saling care hingga nyaman berkomunikasi, banyak topik yang kami bicarakan mulai dari kekasih, pertemanan, dan bahkan perempuan yang disukai ustadz itu.

Aku sendiri dengan teman-teman SMA tidak begitu dekat, aku adalah si introvet yang senang melakukan apapun sendirian baik itu belajar, jajan atau bahkan ke mushola. Tak punya teman akrab dimanapun, aku punya prinsip yang berbeda dengan teman-teman sekelilingku. Mungkin mereka masih berpikir main-main ketika sekolah, namun tidak bagiku. Aku menyadari setelah saat ini sudah memiliki lingkar bekerja yang elit, bagaimana latar belakang menentukan lingkaran pertemanan. Pelajaran penting bagiku adalah kita jangan pernah mengumbar kondisi kita pada siapapun yang dekat dengan kita, karena itu akan menjadi kelemahan dan kekurangan kita. 

Waktu begitu jalan dengan cepat, aku dan Eri memutuskan untuk bertemu setelah sekian lama aku tidak bertemu dengannnya, disitulah aku akan bertemu dengan pacar LDR ku yakni sepupu Eri, Arfan namanya. Kami janjian di warung bakso terkenal didaerahku, sebutlah toko itu Sarirasa. Ya disitulah kami berkenalan, 30 Desember 2008. Sehari pasca ulang tahun ku..........


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...