Namaku, Rayya. Berawal dari lingkunganku yang mendukungku untuk dekat dengan para ustadz maka kala itu aku berkenalan dengan ustadz yang mukim ramadhan di desaku. Nama ustadz itu Eri. Perawakan tinggi, berkulit putih dan berambut lurus menambah semangat mengaji para santri termasuk aku. Saat itu aku berusia 15 tahun, tepatnya kelas 2 SMP. Tidak seperti dengan sebelumnya ustadz ini begitu sulit untuk diajak berkenalan dekat. Kami hanya bisa menemuinya saat ngaji saja karena dia jarang untuk tarawih dan sholad subuh di masjid kami, Dia ditugaskan untuk memimpin jamaah di RT 06, yang letaknya dekat dengan persawahan.
Entah kenapa saat bertemu dia rasa yang timbul dari hati begitu mengesan, maklum saja aku masih usia SMP, sebut saja mengenal cinta monyet. Tidak hanya aku yang ngefans dengan ustadz itu, teman-teman remajaku selalu menjadikannya tranding topik. Satu bulan Ustadz itu bermukim lalu dia kembali ke pondoknya. Perpisahannya di mimbar Idul Fitri, selepas Idul Fitri ala anak santri kita mengucapkan perpisahan kepadanya.
Beberapa tahun kemudian, aku memiliki HP pertama kali bermerk samsung J, HP kecil dengan bunyi poliponik, disitulah aku mulai mencari nomer HP orang-orang yang terhubung denganku, singkat cerita aku menemukan no,HP ustadz Eri. Kita kemudian terhubung, hampir setiap hari kami terhubung dalam komunikasi. Begitulah singkat kami berkenalan dengan ustadz semakin menyenangkan. Tak ada yang mengungkapkan cinta namun kami saling care hingga nyaman berkomunikasi, banyak topik yang kami bicarakan mulai dari kekasih, pertemanan, dan bahkan perempuan yang disukai ustadz itu.
Aku sendiri dengan teman-teman SMA tidak begitu dekat, aku adalah si introvet yang senang melakukan apapun sendirian baik itu belajar, jajan atau bahkan ke mushola. Tak punya teman akrab dimanapun, aku punya prinsip yang berbeda dengan teman-teman sekelilingku. Mungkin mereka masih berpikir main-main ketika sekolah, namun tidak bagiku. Aku menyadari setelah saat ini sudah memiliki lingkar bekerja yang elit, bagaimana latar belakang menentukan lingkaran pertemanan. Pelajaran penting bagiku adalah kita jangan pernah mengumbar kondisi kita pada siapapun yang dekat dengan kita, karena itu akan menjadi kelemahan dan kekurangan kita.
Waktu begitu jalan dengan cepat, aku dan Eri memutuskan untuk bertemu setelah sekian lama aku tidak bertemu dengannnya, disitulah aku akan bertemu dengan pacar LDR ku yakni sepupu Eri, Arfan namanya. Kami janjian di warung bakso terkenal didaerahku, sebutlah toko itu Sarirasa. Ya disitulah kami berkenalan, 30 Desember 2008. Sehari pasca ulang tahun ku..........
Komentar
Posting Komentar