Langsung ke konten utama

NASKAH TUHAN (1)

Aku adalah anak perempuan dari Ayah dan Ibuku, keluarga harmonis sederhana dan memiliki visi kehidupan adalah gambaran keluargaku. Ayahku yang lebih banyak diam dalam menyikapi berbagai hal, mengiyakan setiap apa yang ku harapkan utamanya adalah persoalan cita-citaku. Ibuku, dia adalah perempuan "nrimo", pandai mengatur perekonomian keluarga, visioner kedepan, ambisius dan pekerja keras. Aku punya saudara laki-laki satu-satunya, penyayang, pendiam dan pemalu. Aku adalah rangkuman dari perilaku mereka, penyayang, loyalis, pekerja keras dan idealis. 

Sejak kecil aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang namun terbatas dalam perekonomian, setiap apa yang ku inginkan dimasa kecil hingga usia dewasa jika itu bukan kebutuhan primer pasti akan ditunda, ayah dan ibu senantiasa memprioritaskan pendidikanku. Tak heran aku menjadi perempuan pioner dikelas ku hingga aku senantiasa juara pertama, dua dan ketiga selama sekolah. Tak main-main Ayah Ibu bisa menyekolahkanku pada sekolah favorid milik pemerintah namun masih memungut bayaran mahal. 

Aku sebetulna tidak banyak menikmati masa-masa sekolahku, karena aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar, caraku untuk mengapai sekolah itupun harus melalui kendaraan umum disaat orang-orang mengenakan kendaraan pribadi. Aku tidak pernah membenci ayahku, aku tidak pernah membenci ibuku apalagi kakaku, aku menjadi bersyukur karenanya aku menjadi bisa berada pada anak-anak yang notabene lahir dari orang kaya dan bernasip baik bisa sekolah yang disebut favorid dan unggul. 

Rasa percaya diriku tak pernah terganggu karena begitu banyaknya pujian yang ku tuai dari sekelilingku, aku tidak pernah merasa minder, bahkan aku selalu lupa ada kekurangan dalam diriku. Pujian-pujian yang ku tuai adalah salah satu bentuk kebahagianku. Berlaku apapun aku hanya ingin dipuji orang, berprestasi senang karena ingin dipuji orang, berbuat apapun karena ingin dipuji orang dan tak jarang aku terlihat sangat bahagia padahal aku sedang menderita, gelisah dan tidak fokus pada semuahal yang aku lakukan karena takut dikeritik dan takut diberikan komentar buruk oleh orang lain. Ketakutanku adalah orang lain. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...