Pagi itu aku tiba di kampus, lalu aku pandangi ruang ke ruang, sepi sekali. Apa karena corona masih menghantui Jakarta, hingga suasana kantor pun sepi. Sudah tujuh bulan aku meninggalkan kantor, semua ku lakukan dari rumah. Dari mengajar hingga membimbing skripsi mahasiswa. Hari ini adalah hari pertama aku bertemu dengan seorang ustadz yang ingin menikahiku. aku mulai menyapanya namun dia tetap tertegun diam, sesekali pandangannya mengarah padaku. Laki-laki berusia 48 itu dalam kesederhanaan dan kesholehan itu mengurat iba dan kecewa, mungkin saja dia malu bertemu denganku hari ini.
Dengan percaya dirinya aku hari ini berbalut baju berwarna biru dan putih. Jilbab balutan angraeni menambah primanya performa, aku tak pernah menyesali pernah tidak menyetujui permintaan ustadz itu bagiku, dalam kehidupan ada orang yang tepat namun tidak datang di waktu yang tepat.
Komentar
Posting Komentar