Langsung ke konten utama

Pengasuhan Positif dan Pendidikan Anak Usia Dini dalam masa pandemik Covid-19

Siang selesai kuliah sebagai mahasiswa pukul 12.00, saya langsung beralih ruang diskusi mingguan bersama
a. Direktur PAUD Kemdikbud, Dr. Muhammad Hasbi,
b. DIrektur KSKK Madrasah Kementerian Agama
c. Ketua IGTKI
d. Ketua HIMPAUDI Indonesia
e. Kak Seto
Malam ini pun saya ingin menulis sebagai refreshing karena tugas-tugas kampus begitu padat belum pula pekerjaan sbg dosen, WEW🤪, Oke baik No ngeluh but optimis.
saya tertinggal satu jam, namun bagi saya sesi tanya jawab bisa mengambar apa yang sebetulnya dibutuhkan para guru dalam pengasuhan positif dan PAUD pada masa pandemik Covid-19, Jika teman-teman pembaca. Oke berangkat dari pengasuhan positif itu apa?
Pengasuhan positif secara luas dapat kita artikan pengasuhan berdasarkan kasih sayang, saling menghargai, membangun hubungan yang hangat antara anak dan orang tua, serta menstimulasi tumbuh kembang anak agar anak tumbuh dan berkembang optimal dengan mengunakan pendekatan dengan mengedepankan penghargaan,pemenuhan dan perlindungan hak anak, juga mengedepankan kepentingan terbaik anak Upaya untuk memberikan lingkungan yang bersahabat, ramah anak tanpa kekerasan. Jadi apa pengasuhan positif artinya pengasuhan ramah anak dan mengedepankan kebahagian batin baik.
Masa pandemic ini tidak hanya orang tua yang rentan akan bahaya stress karena dibatasi ruang gerak dan ruang tempat demikian juga anak dia harus tetap dirumah meniadakan sosialisasi dengan rekan guru dan teman-temannya mereka akan kehilangan sosialisasi dan komunikasi ala anak. Oh tak heran dong timbul beberapa aduan rengekan anak kepada guru yang rindu sekolah dan rindu teman. belum lagi yang lembaga PAUDnya meminta orang tua dengan memberikan kegiatan-kegiatan bak memindahkan lembaga ke rumah, mulai dari skill orangtua yang belum terbiasa, keterbatasan media, kesulitan mengkondisikan anak dan bahkan tata aturan yang tidak jelas diberikan pihak lembaga yang masih perlu ditinjau kembali, nah berarti pemindahan ruang belajar dr sekolah kerumah ini menimbukan masalah bukan? Oke jika demikian berarti perlu kita kuliti bersama permasalahan ini, apa yang harus dilakukan sekolah dengan orang tua dalam masa belajar di Covid-19 ini.
Sesuai dengan protokol untuk PAUD No.4 tahun 2020 disebutkan bahwa pembelejaran PAUD berorientasi pada Kebahagian, bermain, bersama orangtua dengan supervisi guru maka mari maknai dengan seksama .
Berdasarkan diskusi siang ini Pak Hasbi menyampaikan kepada perserta bahwa :
1. Sinergi parenting online antara orangtua dan guru ketika masa covid-19 ini dengan cara meningkatkan komunikasi terkait perkembangan anak, kegiatan anak dan pemantuan kepada peserta didik
2. Berbagi sumber belajar dengan terbuka misalnya memberikan bahan-bahan pembelajaran kepada guru, artinya yang penulis tangap adalah para guru menyiapkan guide learning setiap hari mulai dari step 1 hingga akhir.
lalu apa materi yang tepat untuk masa covid-19 ini, teman-teman pembaca yang berkecimpung di PAUD pasti tidak akan asing lagi dengan istilah Life skill yang disesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan dengan tiga kata kunci yakni (1) penguasaan ketrampilan sosial dan intrapersonal, (2) ketrampilan kognitif, (3) ketrampilan meniru emosi, jadi apa dirumah anak diajarkan dalam kegiatan-kegiatan yang mengasah ketigahal tersebut mulai dari kegiatan bangun tidur hingga mereka tidur kembali bisa tidak terstruktur dengan cara pelibatan mereka dalam kegiatan rumah, misalnya membantu menyiram bunga, menyapu, mengepel, mencuci dalam kegiatan itu dimasukan kegiatan contohnya dengan cara menghitung ada berapa baju yang dicuci, dari menyiram bisa mengembangkan emosinya dengan mencintai lingkugan tentunya orang tua mendampingi dalam hal ini. Media pembelajarannya pada masa covid ini adalah yang ada dilingkungan sekitar mereka.
Orangtua tidak membiarkan adanya masa peralihan ini karena orang tua sebagai sahabat anak harus menyiapkan lingkungan berkualitas untuk mendung learning from home ini dengan memberikan dukungan, motivasi dan teman bermainnya sehingga anak akan mendapatkan pengasuhan positif.
Dengan diipindahkan bermain dalam rumah apa guru lalu lepas begitu saja? oh tentu tidak guru harus melakukan asesment dengan cara berkomunikasi kepada orangtua menanayakan kegiatan anak, melihat laporan dokumentasi kemudian memberikan feedback kepada orantua( HAHAHA jangan malah diapusi atau didiemin aja karena menuhin memori🤪) dengan hasil-hasil feedback positif orangtua akan merasa bangga karena berhasil mendampingi anak-anak.
Demikian yang bisa saya bagikan kepada para pembaca yang mungkin sebagai orantua, sahabat, guru-guru PAUD, mahasiswaku 😁 mudahan bsa jadi energi positif untuk senantiasa memberikan terbaik kepada anak didik kita semua.
Salam betah dirumah! jangan stop untuk produktif dan berkualitas dalam setiap waktu, WFH dan LFH bukan halangan kita untuk membatasi ruang berpikir dan berbuat. Sehat semua ya untuk kita.
Salam Positif Karya, Negatif Covid-19
Dwi Puji Lestari😁🤪🙋‍♀️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...