Dwi Puji Lestari*
“Jangan
panggil saya pak, tapi panggil saya Mas”, Ya mas Nadiem, (KompasTV,23/10/2019) kurang lebih seperti itu yang
disampaikan oleh Mentri baru Mendikbud. “Mas” merupakan panggilan jawa yang identik
dengan usia muda, dapat kita pahami bahwa Mas Nadiem Makarim ini merupakan
wakil milenial yang dipilih Presiden Jokowi pada Kabinet Indonesia Maju.
Sebagaimana Presiden Jokowi yang terbiasa
memilih kabinetnya dengan sikap yang jauh dari pikiran orang pada umumnya tentu
membuat geger dunia pendidikan, ada yang merasa ini pilihan yang tidak professional
karena Nadiem tidak berkarier pendidikan, ada yang merasa biasa dan bahkan ada
yang menyambut dengan positif dengan harapan pendidikan kita semakin baik,
respon ini disuarakan oleh beberapa orang yang penulis tanya secara langsung
maupun melalui laman facebook milik penulis (Lestari, 2019)
Fakta menarik mengenai Mentri yang
berusia 35 tahun tersebut juga disambut meme-meme positif dari warganet seperti
mencari guru lewat aplikasi , Go SPP, ada juga yang mengunakan GoKantin,
akal-akal inovatif bermunculan dari para warganet atas respon CEO Gojek yang
dipilih Jokowi tersebut. Nadiem dipandang mampu merancang masadepan oleh
presiden Jokowi hal ini dikutip Nadiem pada wawancara dengan para wartawan berdurasi 4.18 menit tersebut (KompasTV,
23/10/2019)
Lalu bagaimana sikap-sikap Nadiem dalam
menyelami dunia barunya? Harapan Jokowi kepada Nadiem sebagaimana yang dikutip
Nadiem dalam wawancaranya dengan para wartawan (youtube, 23/10/19) mengatakan
alasan pemilihan presiden Jokowi ingin pendidikan Indonesia tidak Usually atau tidak begitu-begitu saja. Sejauh
pandangan penulis harapan besar ini tersirat pendidikan kita tidak lagi
mencetak pekerja-pekerja pendidikan namun akan lahir para innovator pendidikan di masadepan yang mampu mengatasi pengangguran
terdidik.
Rencana 100 hari Nadiem Makariem yang
bukan lahir dari jenjang karier pendidikan kesadaran diri yang tinggi untuk
belajar, hal ini muncul sebab oleh
mentri milenial ini dalam rencana 100 hari pasca pelantikan akan duduk dan mendengarkan
para pakar pendidikan yang sudah memiliki asam garam di dunia pendidikan, dia
mendeskripsikan sebagai pembelajar cepat (quick
learner), rasanya ini tidak akan menyusahkan para pakar pendidikan untuk melakukan
kerjasama dengan Nadiem yang mengusung kerja bersama berbasis gotong royong
sebagaimana disampaikan dalam pidato pertamanya pada serah terima mendikbud
berdurasi 06.01 (KompasTV, 23/10/2019).
Menteri yang memposisikan diri sebagai
pembelajar, tersebut dengan santun diucapkan pada pidatonya sertijabnya bahwa
dirinya bukan sebagai guru namun sebagai murid yang belajar dari Nol,
kerendahan diri ini yang patut kita apresiasi oleh para aktor-aktor pendidikan,
mentri yang berwatak terbuka ini yang akan mendengar dan mampu mengurai
tantangan-tangan pendidikan yang selama ini belum tersentuh.
Lalu apa komentar penulis sebagai
pendidik yang selama kurang lebih tujuh tahun berkiprah dalam pendidikan? Penulis
ingin mengajak kepada para pendidik yakni para guru yang pertama, menyambut mendikbud
pilihan presiden Jokowi pada kabinet Indonesia Maju dengan aura positif dan
optimis terlepas berbagai opini yang muncul mengkritisi mentri pilihan presiden
ini, kita harus selalu punya harapan besar dalam dunia pendidikan, dengan
adanya pemikir masa depan seperti Nadiem Karim yang telah berhasil
berkontribusi untuk Indonesia, sebagaimana dibuktikan pada hasil survey FEB UI
yang mengatakan bahwa Gojek yang dinahkodainya mampu mengurangi pengangguran Indonesia
(Setiawan, Kompas22/03/2019). Kedua, Sikap terbuka ingin belajar dan berinovasi
harus ada dalam diri para guru sebab yang kita adalah anak-anak generasi y atau
anak-anak melek teknologi, jangan sampai perform kita kalah menarik daripada youtube, ketiga menyokong pendidikan
kita dengan penguatan karakter sebagaimana Nadiem Karim yang menyoroti karakter
dalam pendidikan kita, sebaiknya para guru menjadi role model untuk para murid, menjadi sahabat para siswa dalam menanamkan
karakter secara berkesinambungan, terus menerus dan tidak terikat waktu.
Akhirnya penulis mengucapkan selamat
kepada Mas Nadiem Makarim dan para guru semoga kita satu semangat dalam memperbaiki
pendidikan Indonesia.
*Mahasiswi
Doktor Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Jakarta, yang saat ini
sedang melaksanakan shortcourse
metodologi penelitian pendidikan Islam di Universitas Gajah Mada.
.
Komentar
Posting Komentar