Mengembalikan kepercayaan itu tidak mudah, banyak sekali orang yang menyalahi kepercayaan dengan sepele. Hari kemudian timbul penyesalan, seperti gelas kaca yang berebut dipecahkan namun setelah pecah ingin dikembalikan seperti sediakala. Sulit itulah kata yang mewakili ketika hasrat ingin mengembalikan, begitu rapuh, tipis dan murninya makna kepercayaan yang diusung dalam perumpamaan tersebut.
hari ini, aku ingin menanyakan kembali kepada hati pembaca, soal kepercayaan akan sebuh cinta, hakikatnya dulu cinta terdefinisikan sebagai sesama pemegang akan menjaga dan menghormati relasi, namun kini penulis cinta itu tidak bisa didefiniskan dengan gamblang, dalam perjalanan definisi cinta itu telah terpatahkan oleh dusta, pengkhianatan, taktik dan meninggalkan luka dalam kehidupan, sehingga seni merasakan cinta sudah tidak ada.
setiap kebaikan-kebaikan datang selalu mengundang titik curiga, curiga untuk menyakiti, curiga untuk mengkhianati, curiga untuk menguji, curiga untuk dijatuhkan, semua soal cinta ini begitu menguak dan menyimpanan kepercayaan yang sangat rapuh, tak jarang yang datang untuk kesungguhan sangat sulit dipilah dengan yang datang dengan penuh taktik, sikap antisipatif yang begitu menguat, memproteksi diri dengan menutup akses kepada siapapun.
Pembelajaran pengkhiatan pasangan dan pertemanan adalah dua hal yang tidak bisa dibantahkan meninggalkan tingkat kewaspadaan yang tinggi, yang baik tidak bisa disebut baik, yang sungguh baik sulit diterka dengan ukuran visual satukali pengkhiatan, hingga timbul analisa cara makan, cara bicara, cara duduk dan cara mengambil sikap dalam mengasah ketajaman antisipatif.
pada akhirnya cinta didefinisikan penulis sebagai kesejatian dan loyalitas kepada diri dan darah sehingga meminimalisir resiko keretakan akan kepercayaan.
Komentar
Posting Komentar