Langsung ke konten utama

Dari Bus Ekonomi Hingga Royal Bus : Sebuah Refleksi Perjalanan Academic Event Di Universitas Muhammadiyah Metro Lampung


Oleh: Dwi Puji Lestari

Jum`at tanggal 19 adalah moment paling berharga dalam kehidupan dengan mulai memohon restu pemit ke universitas muhammadiyah metro Lampung untuk mengikuti academic event oleh Profesor Ahmad Thib Raya, selaku wakor kopertais Wilayah I DKI Jakarta, beliau adalah idola baru dalam diri penulis, bertemu beliau adalah bertemu professor yang santun, professor yang tidak membatasi berkomunikasi dengan siapapun, baginya hidup harus banyak berbuat baik kepada sesama sebab atasan itu hanya sedikit adanya, moment sejarah yang tidak dilupakan adalah ketika beliau memberi restu sambil menyuap satu sendok nasi kebuli dihadapan para staf kopertais wilayah I DkI Jakarta karena pada saat penulis hendak meninggalkan kantor sedang ada makan bersama, bagi prof Thib meninggalkan meja makan itu tidak baik, sebab mendesak itulah beliau memberi restu dengan memberi satu sendok nasi kebuli, penghormatan setinggi-tingginya untuk beliau keturanan bugis-bima yang berhasil menyelesaikan konflik di UIN Alahudin Makasar selama 182 hari sebagai Pjs Rektor. Mengenal beliau memang mengenal pemimpin berintegritas.
Tidak ada yang instan, tidak ada yang mudah serta tidak ada yang mengecap kepahitan jika kita hendak meraih manisnya keberhasilan, itulah yang menjadikan penulis terus mengembarakan api ambisi untuk memperjuangkan cita-cita, pukul 20.00 penulis sampai di gambir, ini adalah keduakalinya penulis mengunjungi lampung tanpa fasilitas memuaskan, Awal januari 2019 penulis seminar nasional di FKIP Universitas Lampung berangkat dan pulang mengunakan fasilitas pesawat, namun kali ini penulis mengunakan Bus Damri dengan pertimbangan ekonomi, bagi penulis sekali naik pesawat otomatis akan memangkas APBD yang sudah terencana sebelumnya,(hehehe) so dengan 160 mengunakan Bus Damri bertitle Ekonomi penulis berangkat menuju Bandar lampung.
Sebelum berangkat penulis sempat makan gado-gado di statiun gambir, gado-gado pun naik derajat ketika berada ditempat-tempat seperti statiun, dengan harga 35 ribu serta es the dengan harga 13 ribu menjadi bahan ganjal perut malam itu, sebab keberangkatan tidak sendiri dalam artian bersama kawan-kawan sejawat penulis menjadi gratis makan alias ditraktir, posisi penulis sebagai junior menguntungkan situasi pada meja makan (HAHAHA), malam itu kami berangkat empat orang dari kampus yang berbeda diantaranya dari PTIQ adalah Prof.(CAnd) Made dengan kepakaran penndidikan Islam, Prof.(Cand) Hum dengan kepakaran Filsafat Islam, serta Prof(Cand) Aziz dengan kepakaran Linguistik terkhusus sastra Arab, sedangkan penulis sendiri masih pakar-pakaran (menuju) pada pendidikan Islam anak Usia Dini belum sah bila penulis menyebut pakar sebab pendidikan doctor pendidikan anak usia dini baru hendak di mulai September mendatang, hehe



 
(sumber : Dokumen Pribadi: Makan malam bersama di Bugis Kopitian Statiun Gambir)
Tepat pukul 22.00 kami berangkat dari statiun gambir menuju pelabuhan merak-banten, malam itu dengan duduk di bus ekonomi bagian belakang kami persis menepis jalan dekat kamar mandi bus, kondisi mengesan pertama seumur penulis mengendara kendaraan bus dalam kondisi prihatin (tertawa dalam hati), memang ini menjadi komitmen kami bahwa menimbulkan kesan dalam perjuangan adalalah diutamakan, sebagai dosen suasta yang bagi dosen suasta jangan pernah ada pembahasan gaji kecuali cita-cita adalah cara untuk menhindari rasa keputusaan dalam meraih cita-cita. Artinya dalam kondisi apapun harus tetap cita-cita kondisi diperjuangkan, menghabiskan dengan cara tidur di bus adalah cara menikmati perjalanan ternyaman, pukul 01.00 dini hari kami sampai di pelabuhan merak-banten, alur perjalananan adalah menuju pelabuhan bakauni lampung, tiba didermaga kami lalu turun bus damri berkode 3645 setelahnya kita memasuki lantai 2 dari kapal disitu kita bisa memilih ruang smoking dan no smoking, pemandangan malam dengan kondisi mengantukpun memenuhi kapal, penulis memilih ruang diarea no smoking dan meneruskan tidur, hingga pukul 03.00. tiga jam dalam perjalanan penyebrangan penulis merasa menikmati karena tidak ada protes dari kondisi tubuh penulis, penulis dan rombongan kembali ke bus kemudian menuju Bandar lampung, di Bandar lampung kami turun didepan mall Kedoton tepat pukul 06.30, sebab salah satu dari rombongan kami ada keluarga yakni sesama Madura kami kemudian transit dirumah tersebut, kira-kira perjalanan kurang lebih 10 menit kami sampai di rumah kemudian kami  beristirahat makan, sholad dan mandi.
Jamuan pada tradisi Madura yang cukup mencengangkan adalah sambutan serius yang diberikan tuan rumah, bagi orang Madura tamu adalah pembawa berkah bagi kehidupan mereka, sedangkan kamuan singah para tamu adalah kebaikan bagi mereka sendiri. Itulah tidak heran ketika penulis menemui jamuan mewah dimeja makan semua jenis protein hewani (sop kambing, olahan ati sapi, ikan air tawar, ayam) serta protein nabati (tahu dan tempe), dan lalap menarik ketika dmeja Madura menemukan lalapan direbus yakni sawi rebus serta timun. Pukul 08.30 kami berangkat menuju kota metro lampung yakni universitas muhammadiyah metro lampung, kurang lebih 1.5 jam kami menempuh perjalanan letak kampus pascasarjana yang memisah menjadikan kita menyinggahi kampus sarjana di UMM, lokasi kampus pasca yang dekat dengan kriya kebun dari kampus sarjana kami tempuh dengan waktu sekitar lima menit.
            Kami tiba di kampus pasca pukul 10.00, kami langsung mendaftar sebagai peserta, acara yang berlokasi di gedung pasca lantai 4 pun sudah di mulai, terlihat dua professor dari melayu yakni university kebangsaan malaysiapun menjadi tamu agung diacara academic event ini, pertama adalah menjadi menarik ketika mendengar presentasi bahwa UKM adalah university of quality tak heran kampus yang termasuk kampus top university dunia itu dalam memilih mahasiswapun harus selektif sebab kondisi mahasiswa akan menentukan mutu kampus, UKM pun berbagi bagaimana menjadi kampus kelas dunia kepada para penyimak, adalah prof Horhamidi Muhammad keturunan melayu asli yang memiliki istri dari keturunan Indonesia yakni kota Palembang menjadikan seminar lebih bersuasana kekeluragaan, selain kampus yang mengunggulkan quality kampus UKM adalah kampus research sehingga negara memberikan anggaran lebih dari kampus negeri lainya. UKM yang berdiri diatas 1800 hektar memiliki hutan dalam kampus serta perpustakaan yang buka 09.00-11.00 malam mengambarkan begitu kerasnya tradisi akademik di UKM, memang dulu Malaysia belajar kepada kita, namun kedatangan pembicara dari menjadi bukti bahwa Malaysia saat ini yang menjadi guru kita. Penulis sempat menanyakan bagaimana tradisi research di Malaysia, Malaysia memang menggulkan research sebagai pembaruan dan sebagai prediksi masadepan sehingga “kebaruan”menjadi fokus dalam research dimalaysia hal ini yang dijelaskan oleh Prof Noorhamidi. Session pertama ini diakhiri dengan makan siang.  Pada sesi kedua diisi oleh prof. Edy Herianto, dari UKM dimana beliau adalah asli Indonesia keturunan medan namun sekarang sudah menjadi warga Malaysia. Dalam sesionnya beliau menjelaskan UKM dalam rangka promosi untuk menawarkan lanjutan pada jenjang doctor di UKM, satu massage beliau yang mengiang didengaran penulis:” jika punya kemauan kuat menuntut ilmu maka rejeki akan Allah jamin, mahal hanya dihadapan manusia dihadapan Allah semua biaya kuliah tetap murah dan mudah” artinya apa Allah akan selalu menaungi bagi para penuntut ilmu setelah promosi beliau juga memberikan tips bagaimana agar bisa menulis dijurnal bereputasi.


            (Sumber: Dokumen Pribadi Penulis: Berfoto dengan Prof. Noorhamidi Muhammad dari Universiti Kebangsaan Malaysia)
Pada sesi penutupan acara ditutup oleh Dr. Agus Sutanto,MSI, sebagai direktur pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro betapa kagetnya penulis mengetahui bahwa beliau adalah orang gunungkidul, diakhir acara acara penulis langsung menyalami beliau. Beliau langsung menyambut dengan hangat, memanggil dengan sebutan “dwi” beliau langsung mengatakan dwi nanti mampir dikantor bapak dibawah, bapak akan berikan buku untukmu (nama menjadi dikenal sebab tadi sempat bertanya disesi pertama), penulis langsung mengatakan bahwa penulis dari Gunungkidul, terlihat raut muka semakin senang direktur pasca menyambut itu kemudian mengajak foto-foto berdampingan bersama professor dan warga UMM, pertemuan dengan Dr.Agus menjadikan penulis kembali belajar “kehangatan”atas orang besar yang berhasil ditanah rantau, ya… ini “gablek”(singkong kering) atau “Tiwul”(penganti nasi yang terbuat dari singkong khas gunungkidul) telah menjadi pejabat dilingkungan universitas, tepuk dada serta keoptimisanlah yang penulis rasakan saat melihat Dr.Agus Sutanto, MSI, setelah menuntaskan permintaan foto-foto para mahasiswa Dr.Agus putra gunungkidulpun mengajak sesame putra gunungkidul singgah dikantornya dan memberikan buku-buku yang notabene menjadi karya beliau sebagai pakar sains di university muhammadiyyah metro lampung. <Nah gunungkidul membuktikan warganya bukan kaleng-kaleng bukan>. Sore itu kami mendapatkan sertifikat sebagai participant seminar juga sebaagai participant academic writing adalah harta mahal bagi akademisi seperti penulis sebab dengan sertifikat ini bisa digunakan untuk menaikan KUM meski harus kehilangan Come (hahahaha but Jer basuki mawa bea sih ya)
 
          


 (Sumber : Dokumen Pribadi Penulis: Penulis diantara Dr. Agus Sutanto, M.Si selaku Direktur PSS UMM dan Ibu )
Ada satu kejadian mengharukan disini, mahasisiwi IAIN metro lampung yang dahulu sempat bertemu di seminar nasional FKIP pada bulan januari 2019 menemui penulis dengan alasan mahasiswa ini ngefans (hahaha punya fans macam artiskan ya) mahasiswa itu terlihat berungguh (beretika) menunggu diparkiran depan kampus pasca dengan sikap malu-malunya, penulispun menghampiri mereka, dengan bertukar kabar, memberikan pemantik untuk mahasiswa serta mengakhiri berfoto menjadikan kami begitu mengembirakan dipertemuan sore itu, adalah sebuah kehormatan ketika kita bisa tetap menyambung silaturahim meski jarak memisah jauh.
Panggilan seorang teman karena grab datang menghentikan pertemuan, kami kemudian menuju pol bus damri, kali kita memesan dengan pesanan royal bus, berharap ada sedikit kebaikan kondisi dari ekonomi bus memang harga lebih naik metro-gambir dengan harga 250, dengan jarak tempuh kurang lebih limabelas menit kami sampai di damri, disana kami kemudian print tiket. Sore itu masih pukul 04.30 sedangkan bus akan berjalan pukul 19.00 dari metro, kami mampi warung sebelah dari pool damri yakni warung viral, otomatis kami memesan makanan, kopi serta jus semua pesanan sesuai dengan keinginan kami, yang menarik dari warung viral ini kami bisa live music. Meski suara tidak bagus tapi penulis selalu punya keberanian untuk menyanyi akhirnya penulis menyanyikan lagu:” andai kan datang kembali:” lagu ini menjadi lagu pilihan penulisan karena menjadikan penulis lebih bahagia ketika menyanyi(hahaha menjiwai) ternyata dari romobongan Prof (Cand)made pun suka menyanyi, beliaupun mennyanyi lagu yang menjadi favored penulis kala SMA yakni lagu NAFF “Akhirnya ku menemukanmu” memang kehidupan para penulis ini tidak pernah serius, semua main-main namun main terstruktur, adakalanya kita menyebutnya ini adalah bagian dari hak kehidupan untuk tetap menuntut kebahagian. Ya memang dengan seni kehidupan akan lebih menyenangkan.




(Sumber: Dokumen Pribadi: Singgah di Warung Viral Metro Lampung)

Pukul 06.00 ada mobil pajero sport menjemput kami ternyata itu sanak family dari salah satu teman kami dari Madura, memang perjalanan ilmiah kali betul-betul di sponsori oleh keluarga dari Madura, kami dijemput kerumah yang kurang lebih hanya 5-7 menit dari pool damri metro, disana kami disambut mewah, dengan dibuatkan kopi, teh serta dipersilahkan makan, kamipun menerima sambutan dengan hati yang gembira, salah satu teman mengatakan saya harus mandi disini, sebab dengan demikian ini bagian dari sikap menghargai kita kepada mereka atas penjemputannya. Bagi warga Madura bersifat selayaknya rumah sendiri adalah penghargaan setingginya dari tamu, setelah selesai kami kemudian diantar ke pool damri kembali.
Puku 19.00 kami tiba di pool dan saat itu pula bus berangkat ke pelabuhan bakauni, kali ini suasana royal bus membuat badan bisa berebahan, sehingga mengurangi otot-otot yang berteriak kesakitan J dengan merogok kocek sebesar 250.000 perjalanan metro-gambir bisa dinikmati sambil tidur dengan fasitas bus wifi, charger, full ac mensuport sekali bagi pejalan milenial. Hehehe….pukul 10.37 kami sampai bakauni, bus kemudian memasuki kapal dan kitapun naik ke kapal, dalam kapal kita bisa memilih fasilitas ac maupun non ac, yang ac kita harus menambah uang rp. 10.000 rupiah sedangkan di non ac kita gratis, malam itu penulis ingin melihat suasana kapal dimalam hari, melihat aktivitas para penghuni kapal, benar ada yang jualan kopi dengan bandrol harga 10.000 satu cup kecil, mie, tahu genjrot, bahkan menawarkan jasa pijatpun ada dikapal, bahkan sewa chargerpun dengan harga 10.000.


(Sumber: Dokumen Pribadi: Penulis menulis dalam Kapal yang sedang menyebrang Bakauni-merak)

Kurang lebih perjalanan 3,5 jam penulis menyebrangi pelabuhan bakauni-merak yang akhirnya sampai di Banten, perjalananan mengunakan royal bus terus dilanjutkan hingga di statiun Gambir, pukul 04.00 kami turun dari bus dan salam perpisahan kepada teman-teman, sayapun melanjutkan perjalanan ke Bogor memenuhi undangan untuk menguji karya ilmiah.

Minggu, 21 Juli 2019 (Ditulis di dalam kapal penyebrangan Bakauni-Merak)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...