Langsung ke konten utama

Berbagi Cerita di Hari Anak Nasional

 Oleh : Dwi Puji Lestari


Mama sudah pulang kerja?" tanya anak pertamaku yang berusia 3,8 bulan. Mama sudah pulang kerja, ini mau buka puasa,"jawabku...., kalau mama sudah pulang kerja, mama istirhat ya."suara kecilnya membuatku tersenyum bangga." 

Iya itulah salah satu contoh kasih sayang berupa nasehat yang diberikan anakku araaf usia 3 tahun 8 bulan kepadaku, dia anak laki-laki yang mewarisi sikap ayahnya dalam berkasih sayang kepada mamanya, kepada adiknya kepada siapapun yang dia kenal, dia sebagai kakak sudah menunjukan bagaimana dia mengayomi keluarganya.



(Foto: Dokumen Pribadi ketika anak mengandeng mamanya bermain di Taman Kuliner Wonosari, Gunungkidul)

Dalam mengasuhnya mamanya selalu mengutamakan kasih sayang, mengecilkan suara dan lebih banyak memberikan pandangan kehidupan disertai dengan alasan, karena satu keyakinan yang diyakini penulis sebagai seorang ibu kepada anaknya adalah apapun yang dihadapi dengan kesabaran serta kasih sayang akan berujung baik.

Keyakinan Ibu adalah dikdaya bagi anak, itulah diajarkan suami sebagai pemimpin penulis pernah suatu malam penulis menjelang tidur diajak berbincang oleh suami, beliau mengatakan: "dik, anak-anak adalah keyakinan mu, dia mau baik, dia mau menjadi sukses semua karena keyakinanmu, bahkan pengaruh terkabulnya seorang ayah tidak akan menandingi seorang Ibu, makanya kalau menghadapi anak dalam segala kondisi kamu harus sabar dan yakin, semua ini adalah jalan menuju keinginanmu, tidak boleh mengurangi cita-citamu kepada anak", itu nasehat suami terhadap penulis dalam pengasuhan anak.
(Dokumen Pribadi: Penulis sedang dalam tugas kerja)

Anak-anak yang diasuh ramah, akan menjadi anak ramah, anak-anak yang diasuh berprinsip dia akan berprinsip, anak-anak yang diasuh dengan santun akan santun, anak-anak yang diasuh dengan kuat dia akan kuat, anak-anak yang diasuh dengan ceria akan ceria, disinilah keteladanan sebagai orang tua, dan lingkungan pengasuhan akan menjadi contoh bagi anak-anak.
Komitmen memberi yang terbaik untuk anak-anak, dalam pengasuhan anak-anak penulis selalu berkomitmen memberi yang terbaik bagi anak-anak baik itu sandang, papan, pangan (pakaian, tempat dan makanan) sehingga dalam kondisi apapun tidak akan merubah kondisi anak bagi penulis ada sebuah keyakinan semakin kita memberikan terbaik bagi anak-anak, Allah akan memberinya dengan kemudahan, ini bukan soal kesombongan akan kemampuan namun ini adalah komitmen menjaga amanah dalam memiliki anak, sehingga anak menjadi terpola dalam kehidupanya akan memilih apapun yang terbaik dalam kehidupannya.
Doktrin,  ini adalah sebuah cara pembangunan komitmen yang dilakukan penulis dalam memberikan pandangan kehidupan pada anak, doktrin yang disertai dengan alasan misalnya menjadi anak harus berakhlak baik sebab kalau akhlak baik banyak teman senang kalau sudah banyak disenangi orang akan menambah hati senang dan rejeki yang banyak sehingga bisa beli mobil-mobilan banyak, harus sikat gigi sebab kalau tidak sikat gigi, gigi akan bolong dan dipakai tempat tinggal ulat-ulat kecil ya itulah contoh doktrin yang penulis berikan, sehingga otomatis kalau mereka ketemu sama penulis akan lapor apa yang penulis doktrinkan.
Tidak menyulitkan pengasuh, ini adalah bagian dari kesantunan penulis kepada eyang purti dan eyang kakungnya, dalam artian penulis memang tidak mengasuh sendiri secara totalitas sebab penulis sebagai ibu pekerja namun dalam hal kebutuhan anak-anak penulis tidak pernah menunggu semua barang habis sehingga baru dibelikan namun penulis cenderung menstok segala kebutuhan anak dan membahagiakan eyang putri dan eyang kakungnya dengan menuruti semua permintaan, kenapa ini dilakukan penulis sebab inilah bakti penulis kepada eyang putri dan eyang kakung sebab merekalah masadepan penulis selamat dan kebahagian keduanya adalah awal kesuksesan mereka dalam mendidik para cucunya.
Anak-anak dalam doa, adalah menjadi prioritas utama penulis dalam beribadah adalah mendoakan anak-anak baik itu ibadah wajib maupun ibadah sunah, bagi penulis semua cita-cita semua harapan semua tujuan hidup adalah mengemban amanah dari Allah adalah bertanggung jawab atas anak-anak, memiliki anak adalah sebuah ibadah yang panjang, anak adalah ladang amal serta memiliki adalah anak adalah pintu keridhoan Allah kepada penulis, artinya jika penulis ibaratkan letak anak adalah sejajar dipundak dibawah leher sebab leher diduduki orang tua penulis, kepala diduduki oleh Allah SWT.
(Dokumen Pribadi: Anak pertama penulis sedang bersalim kepada kakek pencari rumput)

Menjadi teladan anak sepanjang masa, ini adalah sebuah komitmen yang harus diyakini dan dijalani penulis dalam segala kondisi, penulis adalah manusia yang tidak luput dari perkara khilaf namun setiap tindakan yang penulis ambil selalu mempertimbangkan apakah yang dilakukan ini akan pantas untuk diteladani anak dimasa mendatang, sebab kita sebagai orang tua adalah melukis sejarah, sebab sebagai orang tua adalah mengambarkan masadepan anak, sehingga dalam berkata, bersikap maupun mengambil keputusan penulis selalu berukuran pada "teladan".
Tidak ambisi terhadap anak-anak namun lebih ambisi kepada diri sendiri, disinilah penulis memang tidak memaksakan anak apakah mereka dimasa kecilnya mau belajar atau mau bermain, sebab bagi penulis menumbuhkan cinta belajar dan cinta bermain itu lebih penting daripada capaian kuantitatif sebagaimana yang dilakukan para orangtua lain, dahulu penulis bukan orang yang diasuh dengan ambisi kedua orangtua namun mereka tidak ambisi sekolah harus rangking, ngaji harus rangking namun semua otomatis penulis raih prestasi sebab kedua orangtua menanamkan cinta kepada ilmu.





 (Dokumen Pribadi : Saat Anak-anak bermain di taman)

Menaruh keyakinan atas anak kepada Allah, ini adalah keyakinan utama penulis kepada anak sebab penulis merasa tidak punya daya apapun atas titipan Allah, sebab dititip maka harus dijaga dengan baik, harus dirawat dengan baik dan harus diberikan yang terbaik dalam mengasuh, mendidik dan membesarkan anak-anak, anak-anak dipasrahkan untuk Allah didik dimanapun mereka berada entah di sekolah, di rumah dan di lingkungan 
Diantaranya itu yang dapat penulis tulis sebagai kenangan untuk anak-anak pada hari anak nasional di tahun 2019, harapannya pembaca turut mendoakan generasi penulis akan menjadi generasi yang bermanfaat untuk agama, keluarga dan negara.

Selamat Hari Anak Nasional, Selamat Merawat Generasi Masadepan.

 Jakarta, 23 Juli 2019













 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...