Langsung ke konten utama

Araaf dan Arafah Masuk PAUD

15 Juli 2019

adalah hari pertama Araaf dan Arafah sekolah, sebagai seorang Ibu bekerja terasa tidak senang ketika tidak bisa menghantar anak dihari pertama mereka sekolah. Sebab bsok mama harus mengikuti kegiatan Rapat Kerja Kopertais Wilayah I DKI Jakarta, Bogor Indonesia. Raker akan dihadiri oleh para rektor/ketua PTKIS di Jakarta, what a amazing experience di usia 28 tahun ini:), Ayo kita ucap Alhamdulillah:)

Araaf di usia 3.8 bulan sedangkan arafah di usia 2.6 bulan, pasti akan banyak menuai pertanyaan kenapa aku memasukan mereka sekolah padahal dari segi usia araaf dan arafah belum seharusnya masuk sekolah, aku memasukan mereka sekolah hanya untuk having fun serta bisa bersosialisasi dengan baik kepada lingkungan di luar keluarga, untuk target yang bersifat kognitif si tidak terlalu idealis, karena aku sebagai Ibu akan jauh lebih bangga jika anak-anak berakhlak baik dan bisa menjadi teladan sesama.

PAUD BANGUN BANGSA, adalah satu-satunya PAUD di desa kami Mojo, Ngeposari, Semanu, Gunungkidul. adalah PAUD yang dikelola oleh Ibu PKK yang tentunya mereka hanya mengandalkan pengalaman non formal dalam mengelola anak, belum memenuhi kualifikasi pendidik yang ditetapkan, ada satu hal yang baik dari sesorang guru PAUD yang harus kita lihat yaitu ketelitiannya dalam mendidik, kesantunan akhlaknya pada anak dan tanggung jawabnya kepada anak-anak yang lagi-lagi menjadi pendidik itu harus bisa diteladani dari segi karakter. sebab usia anak PAUD adalah usia untuk meniru, bisa kita istilahkan children see, children do! jadi apa yang mereka lihat akan mereka lakukan.

Akhirnya aku mendoakan semoga di sekolah pertama araaf dana arafah ini menjadi pintu gerbang kesuksesan mereka dunia dan akhirat.

Penulis:
Dwi Puji Lestari, (Ibu dari Araaf dan Arafah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...