Langsung ke konten utama

Akreditasi: ditakuti atau disambut?


 (Tim Kopertais Wilayah I DKI Jakarta)
 
Borang : "Bohongi Orang" adalah kelakar yang diucapkan oleh Asesor BAN PT Dr. Suparto dalam kegiatan Raker Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Pimpinan PTKIS pada Selasa, 16 Juli 2019 di Hotel Rancamaya Bogor, mendengarnya sontak seluruh peserta Raker, Raker yang bersuasana refreshing tersebut mampu membuat pecutan lembut bagi para pimpinan PTKIS dibawah Kopertais Wilayah I DKI Jakarta, Jika di Ibaratkan Kopertais Wilayah I DKI Jakarta telah menyediakan menu-menu mewah sehingga para pimpinan PTKIS dipersilahkan mengambil dan memilih menu yang akan disantap dan disesuaikan dengan seleranya.
Kegiatan raker dengan mengambil tema." Peningkatan mutu PTKIS melalui Akreditasi" adalah kegiatan yang dikemas dengan cara menyampaikan bagaimana pentingnya akreditasi bagi PTKIS, mengingat selama ini kesadaran yayasan maupun PTKIS masih tampil ala kadarnya dengan menejemen sederhana serta memberdayakan sumberdaya manusia alas landas bekerja ikhlas sehingga tak jarang karena landasan keikhlasan itulah bekerja hanya semaunya, serta mengaji hanya apa adanya yang sama sekali tidak ada supporting bagi Sumber daya manusia didalamnya, akibatnya ketika pemerintah mulai memberlakukan bahwa lembaga harus terakreditasi sebagai bentuk jaminan mutu lembaga, PTKIS tunjang palang kehilangan seperti kehilangan kompas, tak jarang lihat menyusun borang namun ketika terjadi assesment lapangan bukti "karangan borangnya tidak ada", ini adalah sebagian contoh yang terjadi dilapangan perihal akreditasi yang dikeluhkan lembaga kepada PTKIS. 
Sudah saatnya pendirian PTKIS ini bukan ajang main-main atau bahkan ajang untuk berbisnis namun sudah saatnya pola pikir dirubah untuk menjadi lembaga yang akan berkontribusi untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sebagaimana Visi dari presiden Jokowi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku : Menuju Sekolah Bebas Bullying

  Oleh : Dwi Puji Lestari  Kampanye anti bullying di Indonesia santer kita dengar, namun berita bullying di televisi maupun media masa masih sering kita temukan. Kita pernah mendengar kasus Audrey di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh kakak kelasnya sebanyak 12 orang (Liputan 6, 29/03/2019). Serupa baru-baru ini kita mendengar seorang guru ditikam oleh siswanya karena guru melarang siswanya merokok, kasus ini terjadi di Menado (Tribunews,26/10/2019). Diungkap oleh KPI bahwa kasus bully di sekolah dasar sebanyak 25 kasus atau 67% dari keseluruhan kasus yang ada (KPI,04/05/2019) hal ini menjadi pertanyaan besar peresensi, apakah selama ini kampanye anti bullying tidak efektif atau sekolah-sekolah yang ada tidak mengenal program anti bullying, yang lebih ektrim dugan bahwa apakah selama ini pihak sekolah tidak mengetahui adanya bullying di lingkungan sekolah? Bully pada sejarahnya yakni tahun 1530 berkonotasi positif  sebab bullying dimaknai sebag...

Sikap Mengampuni

2017 bercerai, jalan untuk memaafkan sikap-sikap beliau panjang dan berliku. Mulai dari menerima sikap yang diambil. Saat itu aku masih cocok dengan beliau. Namun beliau sudah tidak cocok dengan aku. Menurutku ini adalah caranya untuk tidak menyakiti aku dan anak-anakku. Aku paham banget beliau adalah tipe laki-laki yang ramah pada perempuan sampai kata-kata tidak tega diucapkan tapi sikapnya diambil. Tuhan tidak ingin saya mendampingi beliau diberbagai urusan yang mungkin itu berkaitan dengan kehidupan saya. Sikap mengampuninya adalah sikap yang saya pilih. Aku sudah tenang ketika semua kehidupan sudah tenang. Semoga dikejahuan bisa saling mendoakan untuk buah hati kami tersayang agar menjadi anak-anak yang sukses dan bahagia di masa depan.  Sikap mengampuni masa lalu adalah jalan kebahagian menuju masa depan

Hard to be mother!

Saat anak berpindah jenjang pendidikan, bukan biaya yang saya takutkan. Sejak anak PAUD saya selalu membayar biaya pendidikan anak yang pertama dan di muka. Sistem pembayaran selalu satu tahun sekali. Jadi awal masuk sekolah disitulah saya membayar biaya untuk satu tahun ke depan. Jadi biaya sekolah adalah hal mudah untuk saya. Lalu apa yang menakutkan? Tentu yang paling saya takutkan adalah perubahan dan adaptasi budaya di sekolah barunya. Saat dia menginjak TK B saya mengajaknya survey ke sekolah dasar (SD/MI). Kurun waktu satu tahun dia menimbang dan mendiskusikan pada saya. Saya tidak punya tujuan menyakinkan salah satu sekolah yang kita survey. Bagi saja saya ingin demokratis pada anak, sebagaimana kedua orang tua mengasuh dan mendidik saya. Dia mengatakan pada saya, mama setelah kita jalan-jalan ke sekolah. Aku ingin sekolah di sekolah mama, aku ingin naik sepeda ke sekolah, aku ingin jalan kaki tanpa diantar mbah uti, dan aku ingin menyebrang jalan raya sendiri. Dengan pertimba...